Ditolak Beasiswa Sekali Bukan Akhir Segalanya. Coba Deh Belajar Dari Perjuangan Mereka!

Dipubikasikan :     16/06/16

Ditolak beasiswa memang bikin kamu sakit dada. Nyesek tak terkira. Apalagi kalau beasiswa itu yang paling kamu impikan, misalnya beasiswa ke negeri seberang. Padahal segala usaha, doa, dan ibadah lainnya udah kamu kerahkan, tapi hasilnya menyakitkan.

 

Wajar kalau kamu merasa kecewa, tapi jangan sampai merasa gagal apalagi trauma ya. Kamu yang baru ditolak sekali dan udah trauma untuk mencoba apply beasiswa lagi, coba deh kamu belajar dari perjuangan mereka ini. Dijamin ngangkat semangatmu lagi untuk meraih mimpi belajar gratis di negeri orang.

Habibul Umam akhirnya berhasil setelah percobaan ke-13. via httpmotivasibeasiswa.org

Perjuangan seorang Arif emang ngga mudah ya, untuk akhirnya bisa belajar gratis di Jerman. Sebelum akhirnya tembus beasiswa DAAD-ASOE (beasiswa untuk studi di Jerman), Arif sudah ditolak beasiswa sebanyak 12 kali. Dari mulai beasiswa KAUST (King Abdul Aziz University) di Arab Saudi, Erasmus Mundus (beasiswa untuk studi di Eropa), Panasonic Indonesia (khusus untukmu yang ingin belajar ke Jepang), BGF (untuk studi di Perancis), sampai ADS (untuk studi di Australia). Khusus untuk beasiswa Panasonic Indonesia, Arif sengaja tidak melanjutkannya karena di Jepang baru saja terjadi tsunami. Padahal dirinya berhasil masuk ke tahap semifinal. Alasannya karena Arif yang asli Aceh sudah paham betul bagaimana kesulitannya pascatsunami.

 

Arif lalu mendaftar beasiswa DAAD-ASOE, yang menurutnya paling sulit prosesnya karena persyaratannya tidak mudah. Bahkan ketika pada akhirnya ia diterima pun Arif harus menjalani kursus bahasa Jerman di Jakarta hingga level B2 selama 8 bulan. Jika tidak lulus di level B1, maka beasiswa akan dicabut. Namun, Arif memang tergolong pemburu beasiswa yang gigih.

Saat tengah menjalani proses mendapatkan DAAD-ASOE, ia terserang DBD dan di tengah sakit yang dideritanya, ia masih sempat untuk kembali mendaftar di 4 program Erasmus Mundus (sebelumnya Arif pun pernah ditolak oleh beasiswa ini). Hal itu ia lakukan lantaran khawatir beasiswanya akan dicabut. Usaha Arif tidak sia-sia karena setidaknya di program erasmus mundus ia diterima sebagai reserve list dari Indonesia. LoA dari salah satu programnya Arif gunakan untuk melanjutkan aplikasi DAAD-ASOE. Perjuangan Arif tidak sia-sia, ia lulus tes sertifikat bahasa Jerman dan berhasil berangkat ke Jerman. Yeayyy! Ia pun akhirnya bisa menempuh pendidikan master perencanaan lingkungan di Technische Universit t Berlin. Cerita lengkapnya bisa kamu baca di sini.

Copyright © 2017 Formi Radio